Ikhtiar Selamatkan Pasar Panel Surya RI di Tengah Investigasi Antidumping AS

Bisnis.com, JAKARTA — Industri panel surya RI dihadapkan pada badai menantang di tengah tren kenaikan daya tampung pembuatan.
Salah satu destinasi eksportasi utama, Amerika Serikat, berancang-ancang menerapkan tarif tambahan untuk modul surya asal RI karena dugaan dumping serta tunjangan.
Kendala ini makin nyata setelah Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat atau International Trade Commission (ITC) pada Jumat (29/8/2025) menetapkan untuk melanjutkan proses investigasi countervailing duties (CVD) serta antidumping duties (AD) terhadap importasi panel surya asal India, RI, serta Laos karena diduga kuat mencederai industri domestik.
Menurut kelaziman aliansi produsen panel surya AS, importasi dari India, RI, serta Laos tercatat melonjak menjadi US$1,6 miliar tahun lalu, dari hanya US$289 juta pada 2022.
Banyak dari importasi ini diyakini berasal dari produsen lain dari Asia Tenggara yang telah dikenai tarif, tetapi kemudian mengalihkan lokasi pembuatan.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce/USDOC) akan melanjutkan penyelidikan terhadap importasi tersebut.
Keputusan awal mengenai bea countervailing atau antisubsidi diperkirakan keluar sekitar 10 Oktober 2025, sementara penentuan bea antidumping dijadwalkan pada 24 Desember 2025.
: Ada Tudingan Dumping AS, Begini Prospek Penanaman Modal Fabrikasi Solar Panel di Batam Eksportasi panel surya RI memang naik cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan kelaziman Lembaga Pusat Statistik (BPS), eksportasi panel surya atau photovoltaic cells assembled in modules or made up into panels dengan kode HS 85414300 selama kurun Januari–Juli 2025 mencapai US$684,59 juta.
Nilai eksportasi tersebut tumbuh 93,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$354,43 juta.
Sementara itu, eksportasi sepanjang 2022 tercatat bertengger di angka US$175,81 juta.Nilai ini naik menjadi US$228,21 juta pada 2023 serta menembus US$564,04 juta untuk periode 12 bulan pada 2024.
Direktur Pengamanan perdagangan Kemntrian Perdagangan, Reza Pahlevi, mengemukakan bahwa AS merupakan salah satu sasaran utama eksportasi panel surya, seiring dengan tren permohonan yang tinggi dari negara tersebut.
0 comments:
Posting Komentar